Kekasih Hati
Rumit untuk diungkapkan namun indah untuk dirasakan, itulah kata yang pas untuk mengungkapkan perasaanku ketika kau masih memberi kesempatan untukku mengisi ruang hatimu. Terima kasih tuhan, terima kasih cinta
Profilmu telah menjadi misteri dalam perjalan hidupku selama beberapa tahun, perpisahan beberapa tahun yang lalu telah membuatku terlarut dalam dilema cinta yang tak kunjung usai. Kenangan-kenangan yang telah kuukir bersamamu masih terus terpendam dalam hati ini, begitu banyak kisahmu yang terus membayangi perjalanan hidupku. Beberapa kali kucoba untuk memendam rasa ini dengan menitipkan perasaan ini pada wanita lain, namun itu hanya jadi kesenangan sesaat karena bayanganmu masih terus dan terus menyiksaku. Waktu berlalu begitu lama, rindu memandang dan berbincang denganmu bisa jadi akan menjadi sebuah angan buatku, hanya jadi khayalan yang tak kunjung usai. Namun hatiku sedikit lega ketika tersiar kabar bahwa kau kan pulang ketika lebaran esok, ha.a.a…… hari-hari yang sangat menegangkan, sangat kutunggu-tunggu juga. Hari, minggu, bulan telah berlalu hingga waktu yang aku nanti tiba juga, berbagai pola telah menyerangku ketika niatan untuk menjumpai mu terlintas dalam benakku. Pakai apa, bagaimana, seperti apa, semua itu menjadi segudang pertanyaan klasik yang pasti akan terpecahkan. Dengan memberanikan diri dan dengan sejuta kenekatan aku beranikan diri ini untuk melangkahkan kaki kerumahmu, namun sepertinya tuhan sedang berkehendak lain karena aku tak berjumpa denganmu disana, bermacam obat keberanian yang telah ku telan hancur seketika itu juga. Sempat putus asa namun masih berkeinginan.
Beberapa hari terlewati dengan sejuta pertanyaan yang belum terpecahkan, hingga di suatu malam takbiran itu aku memandang wajahmu melintas didepanku. Berbagai macam rasa segera menyergapku seketika, tuhan…..apa yang harus aku lakukan. Karena senangnya hingga kesempatan itu terlewati, aku tak tau harus berbuat apa lagi. Pil nekat telah habis kulahap malam itu, stok telah habis dan aku tak tau bagaimana mencari cadangannya, putus asa yang kedua kalinya. Tapi sedikit terobati karena aku sempat melihat wajahmu walaupun hanya sekilas, bulan suci pun telah berlalu dan itu adalah pertanda bahwa penyiksaan batin akan segera terulangi.
Enam tahun kulewati dengan fenomena yang sama, tanpa sesuatu yang lebih. Hingga kululusan SMA tiba, kuberanikan diri untuk menjumpainya dengan bermacam ketakutan, namun seketika itu juga aku redam. Sedikit rayuan maut aku ucapkan demi kelancaran usaha ini, ha.a..a.aa..a……maklum masih muda!!!!
Tapi kegagalan kembali menyerangku saat itu, sebelum waktunya tiba kami sudah harus berpisah karena tuntutan kuliah, cukup jauh kami berpisah karena aku berada di pulau jawa. Tapi niatan ini tak pernah pupus dari hatiku, keinginannku untuk medapatkan cintanya masih terlalu berat untuk dibuang. Singkat cerita, setahun telah terlewati dan kuputuskan untuk kembali ke kampung halaman dengan tambahan niat untuk menjumpai dirinya. Waktu yang kutunggu-tunggu telah tiba, bebrapa kali bertemu dan sedikit rayuan menambah keberanianku untuk mengungkapkan perasaan yang telah lama terpendam. Alhamdulillah dia mau menerimaku sebagai kekasihnya, terima kasih tuhan, terima kasih cinta karena kau masih memberi kesempatan kepadaku untuk memiliki dan menyayanginya.
20 september 2009.

woiiiiyyyy inget ma qu ga?????
BalasHapusYup, !!!!
BalasHapus