ROAD TO DIENG “IPMALAY”

Belajar, wawasan baru, bermain, silaturahmi merupakan komitmen awalku ketika aku ikut terjun bersama IPMALAY, walaupun dengan segala keterbatasan disana sini ALHAMDULILLAH kami masih bisa eksis sampai sekarang. Terakhir program kegiatan yang kami jalani, refreshing bersama menghilangkan penatnya dunia kampus apalagi baru selesai ujian. Untuk mengisi liburan semester ini kami bersama memutuskan untuk mengunjungi negeri kahyangan di Wonosobo, sebenarnya vacation day setelah ujian sudah kami sepakati jauh hari sebelum kami libur, namun karena kesibukan teman-teman di dunia kuliahnya membuat kegiatan ini kurang terkordinasi dengan baik. Libur sudah tiba dan perlahan isu “negeri kahyangan” mulai kami masukkan/sisipkan kedalam agenda I-Smile, maupun agenda-agenda lain di IPMALAY, tidak beberapa lama isu itu mulai berkembang yang berbuah terbentuknya rapat kordinasi untuk mengisi konsep vacation yang akan kami bawa, karena memutuskan sebuah keputusan bukanlah hal yang mudah karena kami tidak menganut sistem otoriter, semua orang bebas menyampaikan pendapatnya apalagi ini program liburan yang diharapkan bisa mencerahkan pikiran dari dunia kampus. Sedikit bermalam-malam ria bersama untuk memutuskan dimana, kapan, bagaimana, seperti apa akan di bawa vacation ini akhirnya terealisasikan, walaupun sedikit diwarnai ketegangan karena perdebatan kawan-kawan mengenai konsep yang akan dibawa ke negeri kahyangan nantinya, hingga akhirnya semua kawan-kawan sepakat konsepnya adalah “konsolidasi” road to Dieng2009. Beberapa malam telah terlewatkan dan berbagai persiapan sudah disiapkan oleh masing-masing PJ (penanggung jawab).
Sebagai PJ suvey lapangan aku mencoba untuk bertanggung jawab terhadap kepercayaan yang telah diberikan teman-teman kepadaku, dengan bermodalkan nekat karena sebelumnya aku tidak pernah sama sekali mengetahui apa yang namanya “Dieng”, akhirnya aku ditemani oleh nandar, bang tri, dan mbak fitri berangkat dari jogja menuju dieng.
Jum’at, 2 juli 2009 10:00 am kami berangkat dari jogja menuju dieng, dengan pakaian sedanya (tanpa jaket tebal, sarung tangan, dll) kami menyambangi beberapa kota dan desa untuk mencapai di dieng, istirahat sejenak untuk menjalankan perintah ALLAH SWT untuk shalat jum’at, namun kelihatannya alam sedang tidak berpihak pada kami karena hujan tiba-tiba mengguyur sementara dieng yang kami tuju masih jauh dari tempat pemberhentian kami saat ini untuk berteduh, namun sudah beberapa kali kami melanjutkan perjalanan dan akhirnya berteduh lagi karena hujannya semakin tidak bersahabat. Jika kami terus berteduh sementara alam juga tidak memperlihatkan I’tikad baiknya bisa-bisa perjalanan kami sia-sia karena tidak menghasilkan apapun. Sedikit nekat kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan, dinginnya air hujan yang mengguyur ditambah udara pegunungan wonosaobo yang sangat dingin sempat membuat kami kewalahan, perlahan-lahan kami meneruskan perjalanan akhirnya kami sampai di Wonosobo walaupun sebelumnya sedikit nyasar ngalor ngidul, he.e…e.e.e…
Ternyata badan ini semakin terasa dingin, begitu juga dengan yang lainnya sama-sama merasakan dinginnya udara, bibir yang semakin pucat jelas terlihat di masing-masing kami, Sesekali aku bertanya apakah akan kita lanjutkan perjalanan sementara masih dibawah saja kita udah kedinginan seperti ini, bagaimana kalau diatas. Ternyata diluar dugaanku, mereka malah semakin semangat karena tinggal sedikit lagi kita akan berhasil, wajah dan semangat mereka membuatku menjadi malu untuk memperlihatkan kelemahanku. Do the best, perjalanan dilanjutkan walapun motor sudah semakin terasa berat untuk dijalankan karena jalan yang semakin mendaki tak juga mematahkan semangat yang telah tertanam, “ini niatan mulia, kalau tidak sekarang kapan lagi kalau bukan kita lantas siapa lagi” kata-kata itu yang selalu menggelayuti pikirannku.
Jalan terus…. Jalan terus…. Jalan terus….!!!!!
Akhirnya kami sampai juga di negeri kahyangan, sembari mengucapkan subhanallah melihat panorama alam yang indah di sepanjang jalan yang kami lewati, orang menanam tembakau sambil menyiraminya. Begitu banyak aktifitas yang mereka lakukan tanpa terhenti sedikitpun karena cuaca yang sangat dingin, karena udara di dataran dieng memanglah sangat dingin. Kami sempatkan jalan-jalan sebentar setelah sebelumnya kami meminta ijin pada warga untuk tempat yang akan kami gunakan untuk camping lusa. Hari semakin gelap dan memaksa kami untuk turun dan pulang.
Jum’at, 10 juli 2009 09:00 am, kami terbagi menjadi dua bagian keberangkatan, pagi dan sore. Jam J9:JJ wib kloter pertama berangkat dan jam 2J:JJ kami akan menyusul mereka, aku mendapatkan kloter yang kedua karena masih ada sebagian kawan-kawan yang beraktifitas dan baru bisa ditinggalkan setelah selepas magrib. Aku mendapat kabar bahwa kloter kedua telah sampai dan sudah mendirikan tenda, detik jam terus berputar dan waktu untuk keberangkatan kami telah tiba. Berangkat dari jogja selepas isya, 2 jam perjalanan hingga kami beristirahat sejenak. Sekalian bertanya ketika ada yang lewat, “pak, dari sini sampai dieng kira-kira berapa jam lagi ya?”, sedikit tertegun sejenak kemudian dia menjawab “kira-kira 2 jam lagi mas, emang masnya mau ke dieng po? kan udah malam, udara disana itu sangat dingin kalau sudah malam”, sedikit tersenyum kami hanya mengangguk-angguk. Padahal malam itu udara sudah terasa dingin walaupun jaket dan semua perlengkapan sudah kami pakai, perjalanan pun kami lanjutkan dan benar kata bapak itu, semakin kami mendaki udara semakin terasa dingin, dingin, dingin, beberapa kawan-kawan sudah ada yang kelihatan tidak tahan. Hingga kami sampai di wonosobo, sejenak kami berhenti untuk memutuskan apakah kami akan melanjutkan perjalanan ke atas atau tidak atau malah bermalam di sini (wonosobo) sementara udara semakin dingin, kami putuskan untuk bermalam di bawah saja. Kami tidur di alun-alun untuk menanti fajar yang akan menyingsing esok, setelah azan berkumandang kami pun melanjutkan perjalanan, untuk segera bergabung dengan yang lainnya. Keindahan alam yang begitu indah pasti akan menggoda siapa saja yang melihatnya ketika itu, setelah beberapa menit kami menikmati perjalanan kami pun sampai ke tenda tempat yang lainnya berkumpul.
Tak ingin membuang waktu kami melanjutkan perjalan utntuk menjelajahi seluruh obyek wisata yang ada di dataran dieng ini, sedikit bernarsis-narsis ria di depan kamera sebagai momen pengabadian bahwa kami sudah pernah memijakkan kaki di dataran tertinggi kedua setelah dataran tinggi di Nepal. Setelah beberapa tempat kami sambangi, telaga warna menjadi tempat terakhir yang kami tuju. Sedikit evaluasi terhadap kejadian semalam yang telah terjadi, banyak yang berpendapat dan akhirnya banyak yang mengeluh minta pulang karena tidak tahan terhadap dinginnya udara yang menusuk kalau malam telah tiba, hampir sebagian lebih kawan-kawan dari kloter pertama mengeluh untuk pulang kalau tidak berpindah ke dataran yang lebih rendah. Kesepakatan yang disepakati kalau kami semua turun ke dataran yang lebih rendah, pertimbangan udara di daerah yang lebih rendah pasti sedikit lebih bisa di antisipasi dibanding udara di dieng, setelah beberapa jam mencari bumper untuk tempat kami kemah akhirnya kami berkemah di telaga menjer, 45 menit turun dari dieng resort. Setelah semua perlengkapan kami beresi, kami pun turun kebawah. Melewatkan satu malam di telaga menjer bersama, wajah-wajah yang terlihat letih terbiaskan ketika salah seorang mencairkan suasana dengan petikan gitarnya, semua ikut bernyanyi semua merasa senang, tak ada masalah.
Pengalaman yang telah aku dapatkan tak akan pernah terbayar dengan apapun juga, pengalaman yang sangat funtastis sekaligus menegangkan.
Nb : jangan pernah mencoba kemah ke Dieng jika belum kebal terhadap dingin, apalagi di musim kemarau (juli, agustus) karena udara bisa mencapai 100c -00c. persiapkan semua peralatan di saat dingin, kalau nekat perbanyaklah membawa selimut, baju, sweater, semuanya yang mampu menahan dingin. Mencoba tidak ada salahnya, tapi jangan buat coba-coba, he.e..e.e.e..e…

0 Komentar: